Eid Mubarak

Eid mubarak. Selamat idul fitri. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahanku.

Meski telat, tak apalah.

Untuk kali kesekian aku berlebaran di Belanda. Di awal tahun sebenarnya aku berniat mudik lebaran. Tetapi ada suatu alasan yang membuatku akhirnya tak jadi mudik. Semoga alasan yang barakah. Amin.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini aku dan istriku menjalankan shalat ied di masjid besar Maroko di Enschede. Meski di dekat rumah ada masjid Turki, aku memilih shalat di masjid Maroko karena teman-teman Indonesia juga bershalat ied di sana. Jadi sehabis shalat, bisa langsung bersalaman dan saling meminta maaf.

Gerimis mengiringi langkah para jamaah yang menuju ke masjid Maroko. Kami tiba di sana sekitar setengah jam sebelum shalat ied dimulai. Ketika masjid belum sesak terisi. Dan sempat ikut bersama mengumandangkan takbir.


Masjid belum sesak terisi.

Sehabis shalat… ngantor!!! :-(
Gara-gara dua hari selepas lebaran harus turut menyajikan demonstrasi hasil proyek, terpaksalah aku tak jadi ambil cuti. Apalagi program belum kelar 100%.

Sedihnya berlebaran di Barat. Tak ada libur nasional apalagi cuti bersama.

Laptop penambah masalah

Untuk keperluan demonstrasi hasil penelitian, aku minta pada Marten -supervisorku- agar aku disediakan satu laptop. Perangkat lunak yang kami kembangkan akan kami pasang dan demonstrasikan di laptop itu.

Kebetulan Marten punya laptop cadangan yang relatif masih baru. Laptop itu diberikannya kepadaku. Marten bilang: coba kamu cek dulu apakah spesifikasinya mencukupi. Jika tidak, aku carikan laptop lain.

OK, boss!
Setelah aku cek ternyata spesifikasinya tak mencukupi. Memori yang tersedia cuma 512MB. Hmm.. padahal aku perlu jalankan bebarengan beberapa perangkat pengembangan (development tools) yang hampir semuanya rakus memori. Belum lagi, aku juga harus jalankan server. Sepertinya aku butuh memori 2GB, deh.

Ada dua pilihan, kataku. Cari laptop lain (baru) atau upgrade memori. Berhubung pilihan kedua jauh lebih murah, jadilah memori laptop akan ditambah. Setelah sekretaris si Marten kontak sana kontak sini, memori akhirnya dipesankan. Waduh… perlu waktu sepekan menunggu memori tak jua datang :-(

Kemarin memori akhirnya datang. Kuminta tolong bagian helpdesk untuk memasangkannya. Tak lama berselang, orang helpdesk meneleponku memberitahuku bahwa laptop telah siap. Berseri aku datang mengambil laptop itu.

Laptop kunyalakan. Belum juga lima menit… HWARAKADAH! Laptop kok restart sendiri. Lha?

Laptop restart, masuk ke Windows, dan… lagi-lagi restart sendiri. Wah, celaka ini :-( Laptop kok jadi nggak stabil gini. Jangan-jangan kemampuan kecepatan clock memori tak selaras dengan kecepatan clock komputer. Setelah restart beberapa kali, muncul pesan (kalau tak salah ingat, pesannya seperti ini):

Windows is corrupted.

Jadi pusing nih. Kuminta tolong ke bagian helpdesk untuk memperbaikinya. Besok atau lusa baru sempat dikerjakan, kata mereka :-(

Nasib… nasib. Pengin pakai laptop yang rada cepet kok malah jadi tambah ruwet?

Dikejar tenggat waktu

Pekan-pekan belakangan ini aku benar-benar sibuk (hingga tak sempat nulis blog). Gara-gara aku dikejar tenggat waktu demonstrasi hasil proyek :-(

Pekan depan, tanggal 2 dan 3 Oktober akan ada acara Freeband Event. Freeband merupakan proyek besar tingkat nasional Belanda yang memayungi banyak proyek-proyek lain, termasuk proyek A-MUSE yang kukerjakan. Pada acara tersebut, proyek-proyek di bawah Freeband akan menyuguhkan demonstrasi hasil-hasil penelitian mereka.

Proyek A-MUSE memakai dua studi kasus: reka-ulang suatu aplikasi peka-konteks (context-aware application) LiveContacts dan usul penyelesaian masalah Semantic Web Service Challenge (SWSC). Demonstrasi keduanya akan ditampilkan dalam acara tersebut. Di kedua proyek itu, salah satu tugasku adalah mengembangkan perangkat transformasi (semi-)otomatis untuk mengubah model grafis menjadi program yang siap dijalankan di server.

Studi kasus SWSC berjalan lebih mulus daripada studi kasus LiveContacts. Berawakkan empat orang (termasuk aku) menjadikan komunikasi kami lebih mudah dan diskusi lebih fokus ke penyelesaian masalah. Model yang kami gunakan sudah cukup stabil sejak beberapa bulan lalu. Alhamdulillah, tadi pagi saat uji integrasi (untuk kali yang kesekian :-) akhirnya ada titik terang penyelesaian teknis yang selama ini mengganjal. Di pertengahan akhir bulan Oktober, kami juga akan turutserta di workshop SWSC mempertunjukkan cara kami menyelesaikan tantangan yang diberikan.

Sementara itu, pada studi kasus LiveContacts, keadaannya terasa runyam. Selama ini jarang ada koordinasi, padahal cacah orang yang terlibat justru lebih banyak. Tahu-tahu ketika waktu sudah mepet, si manajer paketkerja (workpackage manager) minta ngebut agar segera diselesaikan. Yang bikin lebih parah lagi, model yang harus ditransformasi belum juga stabil alias masih sering diubah-ubah. Padahal tugasku tergantung pada model itu :-( Yah… semoga bisa siap untuk demonstrasi tanggal 2 Oktober nanti.

Cek kesehatan di Pekan Sehat

Setiap tahun di awal tahun ajaran, di UT ada Pekan Sehat (Gezonde Week). Ada berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan; salah satunya adalah cek kesehatan. Gratis.

Aku selalu tertarik kalau ada gratisan :-)

Dalam sepekan ada berbagai macam cek kesehatan, antara lain: pengukuran kolesterol, gula darah (glukosa), tekanan darah, kebugaran, lemak dan BMI (body mass index).

Alhamdulillah, hasil pengukuran menunjukkan bahwa aku berada pada tingkat kolesterol, gula darah dan tekanan darah dalam kondisi normal/optimal. Hasil pengukuran tahun lalu mengisyaratkan bahwa tingkat kolesterol-ku normal-tinggi. Wuups :-(

Harus banyak makan sayur, begitu saran yang kuterima waktu itu. Kini, setelah hampir selalu ada sayuran di menu makan tiap hari, tingkat kolesterol-ku sudah turun dalam rentang optimal.

Berdasarkan hasil pengukuran kebugaran, aku disarankan untuk kembali berolahraga. Gara-gara pekerjaanku yang selalu memaksa aku duduk dan mengetik, aku jadi kurang olahraga. Ayo, semangat! Setelah puasa, aku harus mulai olahraga lagi!

Pengukuran BMI menunjukkan bahwa aku berada di atas kondisi normal (terlalu berat). Ini yang bikin aku bingung. Lha, gimana nggak, dari tampak luar aku selalu kelihatan kurus, je. Dulu Ibu sering menyuruhku makan yang banyak biar aku tambah berisi. Wah, jangan-jangan aku sudah terkena sindrom “pria mapan berhati nyaman”: hanya perut saja yang makin tambun :-)

Mungkin itu karena kandungan lemakku yang nyaris melewati batas normal. Prosentase lemak normal 8 – 20%, aku 19.8%. Massa lemak normal 5.1 – 14.6 kg, aku 14.4 kg. Kalau aku rajin berolahraga, mustinya kandungan lemak itu bisa terbakar, kan? Sepertinya pangkalnya memang aku harus kembali berolahraga lagi.

Dengan Pekan Sehat, UT ingin karyawannya peduli kesehatan. Kesehatan yang terpantau -setidaknya setahun sekali- bisa mengarahkan para karyawan untuk segera memeriksakan diri jika ada gejala yang tak diinginkan. Penanganannya diharapkan jadi lebih ringan atau malah hanya sekedar mengatur pola hidup dan makan, produktifitas kerja pun tak terlalu terganggu.

Anak-anak pun bertarawih…

Dalam sepekan pertama Ramadhan, tak kulihat anak-anak bertarawih di masjid dekat rumahku. Yang bertarawih sebagian besar sudah berumur atau seumur denganku. Tadinya kupikir apakah generasi muda muslim di Belanda tak lagi beribadah. Bujukan budaya Barat (Belanda) menjadi sumber kekhawatiranku.

Lha, bagaimana tidak? Menurut orang Belanda, berintegrasi berarti membaur bersama dalam budaya mereka. Definisi seperti itu tentu saja tak bisa ditelan mentah-mentah oleh para imigran muslim asal Maroko dan Turki. Ada (banyak) hal yang bertentangan dalam budaya Barat dan Islam.

Kekhawatiranku bukannya tak beralasan. Pada salah satu pengajian rutin IMEA, seorang penceramah asal Indonesia yang sudah tinggal bertahun-tahun di Amsterdam mengingatkan kami semua, khususnya bagi yang menetap di Belanda, akan hal itu. Jangan abaikan pendidikan aqidah bagi anak-anak. Kuatkan aqidah anak-anak semenjak dini agar kuat menghadapi bujukan budaya Barat.

Apakah anak-cucu para imigran itu, terutama yang lahir, besar dan mengenyam pendidikan di Belanda, telah terbujuk oleh rayuan budaya Barat?

Alhamdulillah, belum.
Kemarin malam kulihat banyak anak-anak dan remaja bertarawih di masjid. Mereka tak terlihat pada malam-malam sebelumnya karena tarawih dilakukan sudah cukup larut, yakni mulai sekitar setengah sebelas malam. Sementara keesokan harinya mereka harus berangkat pagi ke sekolah.

Selamat datang, Ramadhan

Tahun ini, insyaAllah aku berpuasa Ramadhan di Belanda (lagi). Tahun ini siang hari bulan Ramadhan di Belanda lebih panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini karena musim panas baru saja usai dan kini memasuki musim gugur. Sesuai salah satu jadwal puasa yang ada, shubuh pukul 04:39 dan maghrib 20:20. Berarti puasa harus dijalani sekitar enambelas jam. Tetapi di akhir bulan, shubuh 05:40 dan maghrib 19:12; atau puasa sekitar empatbelas jam. Di pergantian musim, perbedaan waktu terbit matahari tiap hari, dan juga waktu terbenamnya, memang sangat terasa.

Kemarin malam, shalat tarawih dimulai.
Aku dan istri ikut shalat berjamaah di masjid Turki dekat rumah. Masjid itu berjarak sepetak taman bermain anak-anak dari apartemenku. Untung saja ada masjid dekat rumah, jadi meski tarawih pulang larut malam (kemarin sekitar jam sebelas), bisa segera sampai rumah dan tidur agar esok paginya tak kehilangan sahur :-)

Selamat datang, Ramadhan.
Selamat menjalankan ibadah puasa.

Jadi pemenang di tema Photoblog

Baru saja aku lihat di situs photoblog.com bahwa foto jepretanku jadi salah satu pemenang di tema photoblog. Senang, kurasakan :-)


Pengumuman pemenang tema.

Meski demikian, terus terang aku belum tahu kriteria apa yang digunakan dan siapa saja yang berhak menentukan para pemenang. Aku cari-cari di situs itu, kok ya gak ketemu juga informasinya.

Apa pun, sekali lagi, senang kurasakan ada yang menghargai foto bikinanku. Jadi penambah semangat untuk selalu berlatih membuat foto yang bagus dan mampu bercerita :-)

Olahraga sama, pakaian beda

Selama olimpiade berlangsung, aku sering mengikuti liputannya di teve. Tapi ada hal yang sejak dulu tak pernah aku habis pikir.

Sama-sama melakukan gerakan dan teknik yang sama, kenapa di beberapa cabang olahraga pakaian atlit putri beda dengan atlit putra?

Ambil contoh di cabang olahraga atletik.
Atlit putri selalu berpakaian lebih minim dibanding atlit putra. Sebagian (besar) atlit putri bertanding dengan perut dan pusar terpampang dan celana pendek mepet ke pangkal paha. Sementara atlit putra tak pernah memamerkan pusar dan ujung bawah celana justru mendekati lutut. Padahal aturan olahraga, baik putra atau putri, tidak berbeda. Sama-sama lari 100m, 200m, dst. Sama-sama lompat tinggi, lompat jauh, lompat galah, dsb. Sama-sama lempar lembing, lempar martil, tolak peluru dsb.

Namun, selalu saja ada perkecualian. Seorang atlit muslim putri Bahrain Roqaya Al-Gassra tetap tertutup rapat seluruh tubuhnya, meski secara ketat karena alasan aerodinamika.

Demikian juga di banyak (tak semua) cabang olahraga lain. Yang paling kontras, menurutku adalah di cabang olahraga voli pantai. Ketika para atlit putra berpakaian gombrong, baik kaos ataupun celana mereka; atlit putri… ehm, silakan lihat sendiri :-)

Yang terbalik malah di cabang olahraga renang. Dulu pakaian perenang putra dan putri sangat berbeda. Kini, dengan berbagai alasan ilmiah (gaya gesek, berat, daya serap air dsb), pakaian mereka boleh dibilang tak beda lagi.

Jawabannya mungkin ada di sini.
Penonton tak cuma ingin lihat atlit putri berprestasi, tetapi juga rincian lekuk tubuh si atlit. Dan ini yang menyatakan adalah seorang petinggi badan olahraga tingkat internasional: wakil presiden Federasi Tenis Meja Internasional. Lagi-lagi, tubuh perempuan harus jadi objek keliaran mata (penonton) laki-laki :-(

Photoblog: A visit to Luxembourg

Photoblog: Eclipse and fullmoon

Setelah menimbang dan memperhatikan banyak hal, kuputuskan begini (seperti bikin surat keputusan saja :-).

Untuk mempermudah pembaca yang sudi mengikuti photoblog-ku, tiap kali aku mengunggah foto-foto baru, di blog ini akan ada tulisan -sekedar pemberitahuan- yang memberikan taut ke halaman foto yang baru. Kumulai dari unggahan kemarin (Eclipse and fullmoon).

Dengan demikian, pembaca blog ini tak harus langganan RSS photoblog-ku untuk memantau unggahan terbaru. Tak perlu pula pembaca menggali ke arsip-arsip terdahulu. Perhatian: foto-foto unggahan terbaru tak selalu tampil di halaman muka (baca di sini).