Tentang Blog

Jadwalku setiap akhir pekan adalah menelepon Bapak di Jogja.

Nada panggil. Telepon di rumah Jogja sedang berdering.
Assalamu’alaikum, sapa seorang pria di ujung sana mengangkat telepon. Itu suara Bapak.
Walaikumussalam, Bapak. Aku membalas salam.
Eh, Diding. Bapak mengenali suaraku.
Nggih. Pripun kabare, Pak?
Alhamdulillah, apik. Kowe ya apik to?
Nggih, alhamdulillah.
Ana kabar apa, Ding?
Nggiiih… biasa-biasa mawon. Kabar slamet.

Setiap kali orang bertanya kepadaku: apa kabarmu. Selalu aku menjawab: biasa saja, tak ada yang istimewa, atau seperti hari-hari yang lain. Ketika aku sedang merasa senang, jawaban terbaik yang kusampaikan adalah: bagus. Jawaban yang membuat orang susah mencari cara untuk mengorek cerita dariku. Jawabanku memberi titik akhir pada suatu kalimat.

Semenjak kecil aku memang bukan pencerita. Semua yang aku lihat, dengar, alami, rasakan, dan pikirkan, sering kuanggap sebagai hal yang biasa saja. Di blog ini, aku belajar bercerita tentang kabarku. Cerita yang biasa saja.

Leave a Reply