Ketika 1 tambah 1 tidak lagi sama dengan 2

Fiuuh…  aku menghela napas. Dua jam berdiskusi dengan Chris, profesor-ku, selalu terasa kurang.

Sangat menyenangkan berdiskusi dengan Chris (atau tepatnya, mendengar petuah dan wejangannya). Dan aku selalu menikmati setiap detik aku berdiskusi dengannya. Meski aku harus tertatih-tatih dan berbata-bata mengikuti alur berpikirnya. Mengurai yang ruwet benang bundhet menjadi hal-hal sederhana yang mudah ditaklukkan. Merangkai yang terkeping-keping pating tlicik menjadi suatu mozaik yang mencengangkan. Diskusi filsafati yang mengajakku melompati pikiran-pikiran orang-orang yang membuta menerima apa adanya.

Mungkin dia berwejang sambil harus menahan geli ketika aku (tanpa sesadarku, tentunya) cuma dibuat terlongo di hadapannya :-)

Pernahkah baca cerita silat Cina, misal karangan Kho Ping Hoo? Tentulah tak asing dengan istilah “kakek guru”. Gurunya guru. Mungkin itu padanan yang pas untuk menggambarkan seorang Chris. Dua supervisor alias guru-ku adalah didikan Chris belasan tahun lalu. Wajiblah aku memanggilnya kakek guru.

Aku, anak kemarin sore yang mencoba memasuki dunia persilatan, berhadapan langsung dengan seorang kakek guru. Mencoba menimba di sumur ilmu yang tak pernah kering. Chris meletakkan pondasi ilmu dan jurus-jurus dasarnya, lalu mengawal murid-muridnya mengembangkan ilmu dan jurus-jurus itu. Dan aku, si kemarin sore, adalah murid terakhirnya.

Diskusi mulai.
Di depannya terserak berlembar tulisanku yang mencoba menyari ilmu Sang Kakek Guru dan segala macam jurus turunannya yang telah berkembang selama ini. Tanpa ada sedikitpun modifikasi dariku. Ibaratnya, jika ilmunya bilang 1+1 = 2, kutulis apa adanya 1+1 = 2. Ilmu yang telah bertahan belasan tahun dan meluluskan banyak murid lain. Di atas ilmu itu, akan aku kembangkan jurusku sendiri. Ya, pada apa yang kutulis di lembar-lembaran itu yang kini telah penuh dengan coretan tangan Sang Kakek Guru. Campur aduk dalam bahasa Inggris dan Belanda.

Tak lama kemudian, papan tulis yang semula putih bersih mengilat kini telah berwarna-warni penuh dengan hasil keliaran pikir Sang Kakek Guru. Apa yang telah ia tanamkan sebagai pondasi belasan tahun lalu, ia bubrahkan sendiri. 1+1 tak lagi harus sama dengan 2. Ia paparkan semua itu dengan cara yang memang masuk nalar.

Aku gagap. Hatiku ciut. Lha kok malah jadi begini? Setiap pertanyaannya harus kucerna dengan hati-hati. Salah menjawab, eits!… bisa tersungkur aku di depan Sang Kakek Guru. Entah kemana nanti jurusku akan kubawa.

Diskusi selesai.
Dan langit tampak lebih gelap dari sebelumnya. (Lha iyalah, mulai masih siang, selesai sudah sore :-)

Leave a Reply