Sekali lagi aku melihat matahari terbit di tenggara, bukan tepat di timur. Matahari yang sedang berada di belahan bumi selatan aras-arasen keluar dari ufuknya. Pukul setengah sembilan nanti ia baru melongok keluar. Mengunjungi bumi utara yang semalaman membeku kedinginan. Pengukur suhu di tepi jalan menuliskan angka -3 derajat Celcius.
30 Desember 2008.
Aku dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Enschede.
Sebulan penuh kusempatkan sendiri pulang mengunjungi Bapak, Ayah, Ibuk, mbak, adik-adik dan seluruh keponakanku. Di Jogja, di Medan dan di Semarang. Sembari itu kunikmati panas terik matahari dan guyuran lebat hujan tropis. Dan tentu saja, berlama-lama memandangi Gunung Merapi. Ah, gunung… Kurindu rupa dan megahmu selama aku tinggal di Belanda. Negeri nan datar tar di Eropa. Kincir-kincir angin, bunga-bunga tulip dan sapi-sapi poang tak kuasa menghiasi luas langit Belanda. Sering aku berkhayal: andai saja bisa kupandangi Gunung Merapi atau gunung apalah dari jendela apartemenku.
Akhir perjalanan pulangku – pulang ke Jogja dan pulang ke Enschede – disambut dengan secangkir teh hangat dan kue apel kesukaanku bikinan istriku. Menghangatkan dingin tubuhku, mengisi lapar perutku, memuaskan rindu hatiku.
Pulang. Apa sih yang dimaksud dengan pulang?
Suatu perjalanan dengan hanya satu tempat tujuan, yakni rumah. Bukan rumah sebagai padan kata house tetapi home. Rumah adalah tempat hati kita berada. Tempat orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Kata orang Inggris: home is where the heart is. Rumah bisa berbentuk rumah tinggal, tempat kerja, sekolahan, pasar, jalanan, sawah, gunung, atau kau sebutlah sendiri. Tempat dimana kita merasa gembira mendatanginya dan merasa berat meninggalkannya.
Ketika di Jogja, beberapa kawan menyapaku, “Hai, kapan pulang?”
Aku bingung. Pulang yang kemana?
April 11, 2009 at 11:48 pm
bener bangets.. bagiku, pulang tidak merujuk ke suatu tempat, melainkan ke seseorang :) aduh, jadi inget kalo bentar lagi aku harus ‘pergi’ hehehe