Suara gaduh di luar membangunkan tidur malamku. Mungkin itu tepat tengah malam, namun aku tak tahu pasti. Yang jelas di luar sana masih gelap. Terintip di antara tirai jendela yang sedikit tersingkap. Sesaat beberapa pendar cahaya menerangi gelap. Langit malam memerah kekuningan. Sang malam terbangun paksa.
Lalu hening…
Sang malam kembali tertidur. Kubenamkan kepala di bantal. Kulanjutkan tidur, mencoba menyambung mimpi yang sempat terputus secara tak sopan.
Pagi itu.
Kabut tipis menyelimuti Enschede seperti tadi malam. Matahari tak muncul. Bersembunyi ia di balik awan mendung langit Enschede. Apapun, aku harus melakukan apa yang harus kulakukan! Pagi itu juga!
Wajah ayu seorang gadis telah menemaniku selama beberapa bulan terakhir ini. Tapi, di pagi itu, ya… harus di pagi itu, aku mesti bersikap tegas kepadanya. Tak ingin lagi aku dikepung oleh senyumnya. Tatap matanya. Ataupun kemilau rambutnya. Harus kusingkirkan dia dari hidupku.
Sejenak kemudian, seraut wajah menggantikan gadis sebelumnya tadi. Raut wajah itu juga raut wajah cantik seorang gadis. Di bawahnya tercetak jelas: JANUARI 2009.
February 4, 2009 at 1:51 am
moco tulisanmu ki marakake ngguyu dewe dik. eh, yo ono kagum-kagume juga lah. he he he…
jebulane ning walik “pendiam” mu, sampeyan yo iso me-Narasi-kan dirimu.
Pie kabare bojomu?
Johan n fam, Ensi n fam, asih n fam, Bapak?… semoga
kabeh sehat-sehat wae.
Ponaanmu saiki ono piro dik?
trus anakmu wis piro?
yo wis.
ingat diet, awas kolestrol. ha ha ha….
sukses terus yo!