Terbayar sudah

Berbeda dari workshop-workshop lain yang pernah kuikuti, Workshop SWS Challenge benar-benar workshop dalam arti “bengkel kerja”. Di Workshop SWS Challenge, para peserta selain harus menyampaikan presentasi penyelesaian masalah, juga harus memberikan demonstrasi sebagai bukti bahwa penyelesaian yang digunakan benar-benar bekerja.

Dari empat tim peserta tahun ini, hanya tim kami (TI/UT) yang bisa memberikan demonstrasi. Para peserta lain tak mampu melakukannya dengan alasan masing-masing. Jadi… bolehlah kami bangga atas pencapaian ini. Apalagi ini adalah keikutsertaan kami yang pertama kali. Terbayar sudah segala lembur kami selama ini :-)

Runtun ceritanya begini.
Alkisah, SWS Challenge adalah suatu bla… bla.. bla… (baca sendiri tujuannya di sini :-) SWS Challenge menyediakan beberapa skenario masalah yang harus diselesaikan oleh para peserta.  Tingkat kesulitan skenario dibuat meningkat: skenario 1 lebih mudah daripada skenario 2; skenario 3 lebih sulit daripada skenario 2. Dengan keberadan skenario-skenario tersebut, cara-cara penyelesaian yang berbeda bisa dibandingkan atas dasar masalah yang sama, sehingga perbandingan bisa dilakukan secara adil.

Skenario 1 dan 2 bisa kami selesaikan :-)

Agar lebih menantang, SWS Challenge memberikan skenario kejutan. Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan skenario kejutan ini dibatasi: 60 jam! Dua setengah hari sebelum pelaksanaan workshop, para peserta diberi skenario kejutan tadi. Hasil penyelesaiannya harus didemonstrasikan saat workshop.

Setelah dua-malam-begadang tunggang-langgang banting-tulang  (halah!!!), kami bisa menyelesaikan skenario kejutan dalam batas waktu yang diberikan.

Tak berhenti di situ. Saat workshop dihelat, masih ada satu tantangan lagi.  Skenario kejutan diubah sedikit dan peserta harus bisa menyelesaikannya pada saat itu juga.

Enteng! Tak sampai satu menit kami selesaikan tantangan yang terakhir :-D

Tak pelak kami jadi selebritis dadakan di workshop itu, hehehe…

Karlsruhe untuk satu pembuktian

Stanislav menggeber mobil Renault Laguna merah-nya di autobahn. Jarum speedometer menunjuk angka 160km/jam. Tetap saja ia tancap gas. Ini di Jerman, Bung. Tak ada batas maksimum kecepatan di autobahn (jalan raya).

Wuusshhhh….! Sebuah mobil BMW melesat cepat menyalip mobil yang kami tumpangi. Tak seberapa lama kemudian, mobil itu telah hilang dari pandangan. Entah berapa kecepatannya. Pasti di atas 200km/jam. Kejar mobil itu, tantang Dick. Stanislav nyengir. Ia tahu persis bahwa mobilnya tak lagi mampu mengejar mobil BMW tadi.

Sabtu lalu, Stanislav, Dick dan aku berangkat bermobil bersama ke Karlsruhe. Karlsruhe yang berjarak 465km dari Enschede berjarak 4 jam lebih sedikit (menurut Google Maps). Kami berangkat ke Karlsruhe untuk turutserta dalam Workshop SWS Challenge. Kami akan menyajikan presentasi sekaligus demonstrasi metode dan perangkat lunak yang kami kembangkan.

Demi demonstrasi itu, beberapa pekan terakhir ini kami secara intensif mengembangkan perangkat lunak kami. Tak jarang kami kerja di kampus UT atau TI hingga malam. Terakhir di hari Jumat lalu, aku baru sampai rumah hampir tengah malam. Untunglah pada saat itu perangkat lunak kami sudah siap. Kami cukup percaya diri dengan hasil yang kami capai.

OK. Kita berangkat dari Enschede pukul tiga atau setengah empat. Lima jam perjalanan, sudah termasuk berhenti makan malam, kita bisa sampai di Karlsruhe pukul delapan atau setengah sembilan. Cukup bagi kita untuk tidur beristirahat sebelum esok paginya kita harus presentasi.

Demikian usul Stanislav yang tak perlu kami sanggah.

Dick yang tinggal di Hengelo akan menjemput aku di Enschede untuk kemudian berangkat dari rumah Stanislav di Glanerbrug, perbatasan Belanda-Jerman.

Sabtu siang sesuai rencana, Dick dan aku tiba di rumah Stanislav.
Alih-alih langsung berangkat, sekali lagi kami harus buka laptop kami. Dick menemukan kesalahan di perangkat lunak kami. Satu setengah jam kami perlukan untuk memperbaikinya dan mengirimkan hasilnya ke penyelenggara workshop.

Stanislav menggeber mobil Renault Laguna merah-nya di autobahn.
Kami berangkat ke Karlsruhe untuk satu pembuktian: bahwa apa yang kami kerjakan selama ini tak cuma lantang di atas kertas, tetapi nyata adanya.

Photoblog: Photokina 2008

Mengunjungi Photokina

Photokina adalah pameran fotografi dan pencitraan (imaging) akbar dua tahunan berskala internasional. Photokina rutin diadakan di Koln (Cologne), Jerman. Karena diadakan dua tahun sekali, aku sempat-sempatkan mengunjungi Photokina tahun ini. Siapa tahu dua tahun lagi aku sudah tak lagi tinggal di Eropa.

Waktu itu pekan terakhir bulan puasa. Habis sahur, kupancal sepeda ke stasiun demi mengejar kereta pertama yang berangkat ke Muenster, Jerman. Di Muenster, aku ganti kereta menuju Koln. Keluar dari stasiun Koln Messe/Deutz, pintu selatan gedung koelnmesse -tempat pameran dihelat- sudah menyambutku.


Pengunjung Photokina berbondong memasuki gedung pameran lewat pintu selatan.

Photokina sungguh pameran besar.
Berbagai macam produk yang berkaitan dengan fotografi dan pencitraan ditampilkan di sana. Mulai dari kamera, lensa, filter, tripod, berbagai peralatan studio foto hingga mikroskop, teleskop dan teropong ada di sana. Mulai dari perangkat lunak, jasa pencetakan foto online hingga buku dan pigura.

Tak hanya perusahaan besar ternama macam Nikon, Canon, Pentax, Olympus saja, tetapi juga nama-nama yang sebelumnya tak pernah kukira berhubungan dengan fotografi ataupun pencitraan. Svarovski, misalnya. Sebelumnya kukira ia adalah produsen perhiasan kristal saja :-) Ternyata ia juga bermain di dunia optis fotografi dan pencitraan.

Perusahaan-perusahaan besar menyediakan produk-produk terbaru mereka untuk dicoba oleh para pengunjung.


Siapa mau coba lensa sepanjang kaki?

Beberapa gerai memberikan workshop singkat fotografi sekalian berpromosi peralatan yang mereka gunakan di workshop tersebut. Beberapa gerai lain menyediakan model-model cantik yang siap dipotret. Para pengunjung yang berbekal kamera jelas tak melewatkan kesempatan ini :-)

Foto sebagai produk fotografi juga tak lupa dipamerkan. Ada pameran foto yang nebeng produsen kamera, ada juga pameran foto yang secara khusus diadakan oleh penyelenggara Photokina.


Salah satu pameran foto.

Berhubung aku hanya punya waktu sehari -sore hari aku harus balik ke Enschede- tak semua gerai aku kunjungi dengan seksama. Harap maklum, Photokina menempati sembilan aula besar di gedung koelnmesse, dan beberapa di antaranya adalah aula dua lantai. Capek deh… sehari menjajahi Photokina. Enaknya sih mungkin dua atau tiga hari. Jadi bisa lebih leluasa, sekaligus menikmati suasana kota Koln, jika belum pernah ke sana :-)

Kudaku lari gagah berani…


Lompatan pertama setiap peserta.

Pada akhir pekan lalu, kabut tipis awal musim gugur masih menyelimuti ladang-ladang pertanian sekitar Boekelo. Boekelo, yang berjarak 15 menit naik bus dari Enschede, menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara tahunan berkuda Military Boekelo. Tersedia bus ulang-alik gratis dari Enschede Station ke tempat acara. Lumayan…

Bekas ladang jagung habis panen menyisakan pokok-pokok tanaman jagung di permukaan tanah. Sejak pagi, di ladang itu, sekitar seratusan kuda bersiap dan berderap mengikuti lomba lintas alam (cross country) yang berjarak lebih dari lima kilometer. Kuda-kuda itu (beserta penunggangnya, tentu saja :-) harus melompati rintangan yang tersebar di sepanjang jalur lintas alam.

Kusiapkan kamera berlensa panjang sedari rumah. Hari itu cuaca cerah, meski aku sempat dibuat was-was karena hari-hari sebelumnya mendung dan hujan. Bakalan dapat gambar bagus nih. Pengin ikut nonton? Lihat saja foto-foto di sini.

Kudaku lari gagah berani…
tek tek, tek tek… jring!

Syawalan

Tradisi syawalan bangsa Indonesia saat merayakan lebaran tak hilang meski berada di tanah rantau. Akhir pekan lalu, perkumpulan muslim Indonesia di Enschede (IMEA) mengadakan acara syawalan.

Acara diadakan di rumah mbak Liana, salah satu keluarga anggota IMEA yang bertempattinggal di Ahaus, Jerman. Ahaus terletak sekitar setengah jam berkereta api dari Enschede. Sekitar lima belas orang berangkat dari Enschede bebarengan. Mayoritas adalah para pelajar. Sesampai di Ahaus, para keluarga Indonesia yang bermukim di Enschede dan sekitarnya telah pula tiba di sana. Keakraban dan keceriaan ala Indonesia menjadi penawar kerinduan berlebaran di tanah air.


Acara syawalan.

Kalau orang Indonesia ngumpul, selalu ada makanan. (Terimakasih buat mbak Liana dan ibu-ibu yang tinggal di Enschede dan sekitarnya yang berbaikhati menyumbang makanan di acara syawalan tersebut).

Kue dan jajanan (kue lapis, klepon, wingko, bakwan, kacang bawang) telah tersaji berderet di atas meja. Dasar orang Indonesia suka gorengan, bakwan plus cabe rawit lah yang paling laris.

Sementara di dapur, nasi, lontong, lauk dan sayur masih sibuk disiapkan. Di serambi belakang, sate tengah dikipasi. Makan besar nih :-) Sambil ngobrol dengan suami mbak Rani yang tengah membakar sate, kucomot setusuk sate yang telah matang. Mak nyuss…. (Wah, aku jadi lapar lagi saat ngetik tulisan ini :-)


Kue dan jajanan berbaris rapi di atas meja.

Alhamdulillah, kami di Enschede punya keluarga yang bisa menepis rasa sepi jauh dari keluarga di Indonesia.

Eid Mubarak

Eid mubarak. Selamat idul fitri. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahanku.

Meski telat, tak apalah.

Untuk kali kesekian aku berlebaran di Belanda. Di awal tahun sebenarnya aku berniat mudik lebaran. Tetapi ada suatu alasan yang membuatku akhirnya tak jadi mudik. Semoga alasan yang barakah. Amin.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran tahun ini aku dan istriku menjalankan shalat ied di masjid besar Maroko di Enschede. Meski di dekat rumah ada masjid Turki, aku memilih shalat di masjid Maroko karena teman-teman Indonesia juga bershalat ied di sana. Jadi sehabis shalat, bisa langsung bersalaman dan saling meminta maaf.

Gerimis mengiringi langkah para jamaah yang menuju ke masjid Maroko. Kami tiba di sana sekitar setengah jam sebelum shalat ied dimulai. Ketika masjid belum sesak terisi. Dan sempat ikut bersama mengumandangkan takbir.


Masjid belum sesak terisi.

Sehabis shalat… ngantor!!! :-(
Gara-gara dua hari selepas lebaran harus turut menyajikan demonstrasi hasil proyek, terpaksalah aku tak jadi ambil cuti. Apalagi program belum kelar 100%.

Sedihnya berlebaran di Barat. Tak ada libur nasional apalagi cuti bersama.