Untuk keperluan demonstrasi hasil penelitian, aku minta pada Marten -supervisorku- agar aku disediakan satu laptop. Perangkat lunak yang kami kembangkan akan kami pasang dan demonstrasikan di laptop itu.
Kebetulan Marten punya laptop cadangan yang relatif masih baru. Laptop itu diberikannya kepadaku. Marten bilang: coba kamu cek dulu apakah spesifikasinya mencukupi. Jika tidak, aku carikan laptop lain.
OK, boss!
Setelah aku cek ternyata spesifikasinya tak mencukupi. Memori yang tersedia cuma 512MB. Hmm.. padahal aku perlu jalankan bebarengan beberapa perangkat pengembangan (development tools) yang hampir semuanya rakus memori. Belum lagi, aku juga harus jalankan server. Sepertinya aku butuh memori 2GB, deh.
Ada dua pilihan, kataku. Cari laptop lain (baru) atau upgrade memori. Berhubung pilihan kedua jauh lebih murah, jadilah memori laptop akan ditambah. Setelah sekretaris si Marten kontak sana kontak sini, memori akhirnya dipesankan. Waduh… perlu waktu sepekan menunggu memori tak jua datang :-(
Kemarin memori akhirnya datang. Kuminta tolong bagian helpdesk untuk memasangkannya. Tak lama berselang, orang helpdesk meneleponku memberitahuku bahwa laptop telah siap. Berseri aku datang mengambil laptop itu.
Laptop kunyalakan. Belum juga lima menit… HWARAKADAH! Laptop kok restart sendiri. Lha?
Laptop restart, masuk ke Windows, dan… lagi-lagi restart sendiri. Wah, celaka ini :-( Laptop kok jadi nggak stabil gini. Jangan-jangan kemampuan kecepatan clock memori tak selaras dengan kecepatan clock komputer. Setelah restart beberapa kali, muncul pesan (kalau tak salah ingat, pesannya seperti ini):
Windows is corrupted.
Jadi pusing nih. Kuminta tolong ke bagian helpdesk untuk memperbaikinya. Besok atau lusa baru sempat dikerjakan, kata mereka :-(
Nasib… nasib. Pengin pakai laptop yang rada cepet kok malah jadi tambah ruwet?