Anak-anak pun bertarawih…

Dalam sepekan pertama Ramadhan, tak kulihat anak-anak bertarawih di masjid dekat rumahku. Yang bertarawih sebagian besar sudah berumur atau seumur denganku. Tadinya kupikir apakah generasi muda muslim di Belanda tak lagi beribadah. Bujukan budaya Barat (Belanda) menjadi sumber kekhawatiranku.

Lha, bagaimana tidak? Menurut orang Belanda, berintegrasi berarti membaur bersama dalam budaya mereka. Definisi seperti itu tentu saja tak bisa ditelan mentah-mentah oleh para imigran muslim asal Maroko dan Turki. Ada (banyak) hal yang bertentangan dalam budaya Barat dan Islam.

Kekhawatiranku bukannya tak beralasan. Pada salah satu pengajian rutin IMEA, seorang penceramah asal Indonesia yang sudah tinggal bertahun-tahun di Amsterdam mengingatkan kami semua, khususnya bagi yang menetap di Belanda, akan hal itu. Jangan abaikan pendidikan aqidah bagi anak-anak. Kuatkan aqidah anak-anak semenjak dini agar kuat menghadapi bujukan budaya Barat.

Apakah anak-cucu para imigran itu, terutama yang lahir, besar dan mengenyam pendidikan di Belanda, telah terbujuk oleh rayuan budaya Barat?

Alhamdulillah, belum.
Kemarin malam kulihat banyak anak-anak dan remaja bertarawih di masjid. Mereka tak terlihat pada malam-malam sebelumnya karena tarawih dilakukan sudah cukup larut, yakni mulai sekitar setengah sebelas malam. Sementara keesokan harinya mereka harus berangkat pagi ke sekolah.