Jadi pemenang di tema Photoblog

Baru saja aku lihat di situs photoblog.com bahwa foto jepretanku jadi salah satu pemenang di tema photoblog. Senang, kurasakan :-)


Pengumuman pemenang tema.

Meski demikian, terus terang aku belum tahu kriteria apa yang digunakan dan siapa saja yang berhak menentukan para pemenang. Aku cari-cari di situs itu, kok ya gak ketemu juga informasinya.

Apa pun, sekali lagi, senang kurasakan ada yang menghargai foto bikinanku. Jadi penambah semangat untuk selalu berlatih membuat foto yang bagus dan mampu bercerita :-)

Olahraga sama, pakaian beda

Selama olimpiade berlangsung, aku sering mengikuti liputannya di teve. Tapi ada hal yang sejak dulu tak pernah aku habis pikir.

Sama-sama melakukan gerakan dan teknik yang sama, kenapa di beberapa cabang olahraga pakaian atlit putri beda dengan atlit putra?

Ambil contoh di cabang olahraga atletik.
Atlit putri selalu berpakaian lebih minim dibanding atlit putra. Sebagian (besar) atlit putri bertanding dengan perut dan pusar terpampang dan celana pendek mepet ke pangkal paha. Sementara atlit putra tak pernah memamerkan pusar dan ujung bawah celana justru mendekati lutut. Padahal aturan olahraga, baik putra atau putri, tidak berbeda. Sama-sama lari 100m, 200m, dst. Sama-sama lompat tinggi, lompat jauh, lompat galah, dsb. Sama-sama lempar lembing, lempar martil, tolak peluru dsb.

Namun, selalu saja ada perkecualian. Seorang atlit muslim putri Bahrain Roqaya Al-Gassra tetap tertutup rapat seluruh tubuhnya, meski secara ketat karena alasan aerodinamika.

Demikian juga di banyak (tak semua) cabang olahraga lain. Yang paling kontras, menurutku adalah di cabang olahraga voli pantai. Ketika para atlit putra berpakaian gombrong, baik kaos ataupun celana mereka; atlit putri… ehm, silakan lihat sendiri :-)

Yang terbalik malah di cabang olahraga renang. Dulu pakaian perenang putra dan putri sangat berbeda. Kini, dengan berbagai alasan ilmiah (gaya gesek, berat, daya serap air dsb), pakaian mereka boleh dibilang tak beda lagi.

Jawabannya mungkin ada di sini.
Penonton tak cuma ingin lihat atlit putri berprestasi, tetapi juga rincian lekuk tubuh si atlit. Dan ini yang menyatakan adalah seorang petinggi badan olahraga tingkat internasional: wakil presiden Federasi Tenis Meja Internasional. Lagi-lagi, tubuh perempuan harus jadi objek keliaran mata (penonton) laki-laki :-(

Photoblog: A visit to Luxembourg

Photoblog: Eclipse and fullmoon

Setelah menimbang dan memperhatikan banyak hal, kuputuskan begini (seperti bikin surat keputusan saja :-).

Untuk mempermudah pembaca yang sudi mengikuti photoblog-ku, tiap kali aku mengunggah foto-foto baru, di blog ini akan ada tulisan -sekedar pemberitahuan- yang memberikan taut ke halaman foto yang baru. Kumulai dari unggahan kemarin (Eclipse and fullmoon).

Dengan demikian, pembaca blog ini tak harus langganan RSS photoblog-ku untuk memantau unggahan terbaru. Tak perlu pula pembaca menggali ke arsip-arsip terdahulu. Perhatian: foto-foto unggahan terbaru tak selalu tampil di halaman muka (baca di sini).

Geslaagd!

Satu tahap untuk mendapatkan rijbewijs B (di Indonesia, setara SIM A) sudah terlewati. Pagi tadi, aku menempuh ujian teori di CBR Enschede. Aku ambil ujian teori dalam bahasa Inggris secara individual. Seorang mbak petugas memberi petunjuk ujian dan mengawasiku selama ujian.

Ujian dilakukan menggunakan komputer. Satu demi satu pertanyaan dimunculkan di layar komputer. Tiap pertanyaan hampir selalu disertai dengan gambar. Pertanyaan harus dijawab dengan menganalisis situasi yang ditampilkan pada gambar.

Limapuluh pertanyaan diberikan dan hanya boleh enam jawaban salah. Setelah menjawab soal dan berpindah ke soal berikutnya, soal sebelumnya tak bisa diulangi. Sekitar setengah jam berlalu, kuselesaikan juga semuanya. Si mbak petugas lalu pergi ke komputer utama untuk melihat hasilnya.

Aku berharap-harap cemas menunggu hasilnya. Apa pasal?
Saat melakukan tes evaluasi mandiri dengan lebih dari limabelas paket soal (per paket soal berisi 50 pertanyaan), sering sekali aku membuat kesalahan lebih dari enam. Kadang tujuh, delapan atau sembilan. Nyaris! Kemarin malam bahkan sebelas kesalahan. Whalah, ini sih kebangetan! Tetapi, jika aku boleh berkilah, separuh dari paket soal tersebut berbahasa Belanda. Bisa jadi kesalahan yang kubuat karena pemahaman bahasa Belanda-ku yang masih terbatas.

Si mbak petugas datang.
Gefeliciteerd, ucapnya sambil menyalamiku. Je hebt geslaagd!

Ia beri aku sertifikat lulus ujian teori. Hanya tiga jawaban salah! Tak buruk, toch?

Pengajian sans frontieres

Tinggal di daerah perbatasan negara punya cerita tersendiri.

Di Enschede, para pelajar muslim Indonesia bisa bersilaturahim dalam wadah IMEA (Indonesian Moslems in Enschede Association, perkumpulan muslim Indonesia di Enschede). Sesuai namanya, perkumpulan ini tak membatasi diri hanya bagi pelajar saja, tetapi juga mempersilakan muslim Indonesia lain yang telah menetap di Belanda untuk ikut bersilaturahim. Meski namanya mengusung nama kota Enschede, pelajar dan penduduk yang tinggal di sekitar Enschede pun boleh bergabung, termasuk yang tinggal di kota-kota Jerman yang berdekatan dengan Enschede.

Satu agenda bulanan IMEA adalah pengajian. Pengajian ini dilakukan bergiliran di rumah sesiapa yang bersedia. Hari Ahad kemarin, pengajian dilaksanakan di Epe, Gronau (Westf), Jerman. Untuk mencapai Epe dari Enschede dengan kereta api, butuh waktu kurang lebih 15 menit (atau 30 menit, jika waktu berhenti selama 15 menit di stasiun Gronau dihitung). Tadinya sih aku pengin bersepeda saja, tapi sayang hujan turun sedari pagi.

Di Enschede, pengajian IMEA tak kenal batas negara alias pengajian sans frontieres :-)

Memulai photoblog

Setelah begadang demi mencari-cari situs photoblog yang cocok, kupilih photoblog.com untuk memajang foto-foto hasil jepretan kameraku. Kemudian kupilih beberapa foto untuk mengawali isi photoblog-ku. Dan, di blog ini, kini ada taut pada bagian Features di kolom sebelah kanan untuk menuju ke photoblog-ku itu.

Di photoblog itu, kuniatkan jadi ruang pamer foto-fotoku. Sudah banyak foto kubuat (terimakasih untuk teknologi kamera digital :-) tetapi selama ini mereka hanya bersemayam manja di harddisk-ku saja.

Foto akan kuunggah berdasar tanggal pengambilan foto. Jadi, jika pembaca sudi mengikuti photoblog-ku, siap-siap saja untuk lihat ke arsip bulan atau, bahkan, tahun sebelumnya untuk melihat unggahan terbaru. Ini karena halaman pembuka selalu menampilkan foto tanggal terkini, bukan foto unggahan terbaru.

Mau mudah untuk mendapat kabar ada unggahan baru? Cukup berlangganan RSS-nya (setidaknya sudah kucoba dengan Google Reader). Dijamin pembaca tak akan ketinggalan unggahan baru tanpa harus mengaduk-aduk arsip-arsip sebelumnya.

Silakan mempelototi :-)

Cara mudah bobol kunci sepeda

Eits… jangan berpikiran kriminal dulu. Yang aku bobol adalah kunci sepeda milikku sendiri.

Awal cerita ini sudah lumayan lama.
Sekitar tiga atau empat bulan lalu aku kehilangan kunci sepeda. Sepedaku dalam keadaan terkunci, dan celakanya, aku tak punya kunci cadangan. Terpaksalah, sepeda harus dibangkucadangkan untuk beberapa waktu (ehm… beberapa bulan, tepatnya). Untung aku punya dua sepeda. Jadi kegiatanku sehari-hari (ke kampus, berbelanja, dsb) tidak terganggu.

Penyelesaiannya sejatinya sederhana saja: gergaji kunci sepeda itu, terus ganti dengan yang baru. Permasalahan baru muncul, yakni tak mudah menggergaji kunci sepeda. Aku beli gergaji besi kecil (jika besar, percuma saja karena tak ada ruang di antara rangka sepeda). Setelah beberapa jam menggergaji, sepertinya kedalaman hasil menggergaji tak lebih dari satu milimeter. Huh… capek deh :-(

Akhirnya sepeda kudiamkan saja. Karena ada sepeda cadangan, tak ada keharusan segera membobol kunci sepeda itu.

Seorang kawan, Eko, memberitahu bahwa ada tukang reparasi sepeda yang bisa menggergajikan kunci sepeda. Cukup bayar 10 euro, terima beres. Sayang, tempat tukang reparasi itu jauh dari rumahku.

Tom, rekan kerjaku yang asli Belanda, menyarankan sewa saja gergaji listrik alias haakse slijper di toko bahan bangunan. Tak perlu capek-capek menggergaji. Ide bagus!

Kamis kemarin, dalam perjalanan pulang dari kampus kusempatkan mampir di Karwei. Karwei bekerja sama dengan RentPartner menyewakan alat-alat bangunan.

Mas, aku mau sewa haakse slijper untuk empat jam, kataku pada mas penjaga toko.
Boleh. Biaya 6 euro, uang jaminan 75 euro, jawab si mas itu.

Biaya sewa itu tak termasuk roda gerinda (schijf)-nya. Aku beli satu seharga 2,5 euro. Kalau mau beli schijf, cermati: untuk metal atau untuk beton.


Bentuk umum haakse slijper

Di rumah, setelah membaca buku petunjuk pemakaian, kukenakan kacamata hitam, sarung tangan, sepatu, celana panjang dan kaus lengan panjang. Eh, bener… itu bukannya aku mau gaya, tetapi itu demi mematuhi baku keamanan kerja sesuai di buku petunjuk. Dan terbukti, ketika menggergaji, bunga-bunga api memercik hasil gesekan roda gerinda dengan kunci sepeda.

Hati-hati saat menggergaji! Salah-salah rangka sepeda atau pelek roda sepeda bisa ikut tergergaji.

Ah… sepedaku, kini kau bebas dari kekangan. Ku telah teramat rindu menunggangimu :-)

Penulis tidak bertanggungjawab pada penyalahgunaan materi tulisan ini.