Tak ada kereta api langsung dari Enschede ke Maastricht. Kami harus cermat merencana pergantian kereta, jika tak ingin ketinggalan kereta. Jalur keberangkatan yang kami pilih adalah Enschede – Deventer – Nijmegen – Roermond – Maastricht yang makan waktu hampir empat jam. Di Maastricht, kami menginap semalam supaya berkesempatan sehari mengitari kota. 
Jembatan De Hoge Brug dilihat dari jembatan Sint Servaasbrug kala malam.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan: Maastricht (NL) – Liege-Guillemins (BE) – Namur (BE), sekitar satu setengah jam; kemudian Namur (BE) – Luxembourg (LU), hampir dua jam perjalanan. Dari Luxembourg Gare (stasiun kereta api) ke hotel sempat kami kesasar gara-gara informasi lokasi hotel yang tak jelas. Lumayanlah, setengah jam berpanas-panas di bawah terik sinar matahari musim panas sambil nyeret koper :-(
Acara pada hari tiba di Luxembourg adalah jalan-jalan keliling kota. Seperti biasa, sekedar sightseeing. Murah meriah, asal kaki kuat diajak jalan :-)
Jembatan Pont Adolphe: ikon kota Luxembourg.
Hari kedua, kota Luxembourg kami tinggalkan demi regio Mullerthal alias Luxembourg’s Little Switzerland. Terus terang, namanya bikin penasaran. Seperti apa sih Little Switzerland itu?
Kami menuju Echternach, kota kecil yang asri di dekat perbatasan dengan Jerman. Banyak pengendara moge (motor gede) dari Jerman dan Belanda yang juga berakhirpekan di Echternach. Setelah berkeliling Echternach, aku kok tak merasa berada di Switzerland? hehehe…
Pavillion di Echternach berhamparkan taman bunga tulip.
Sepertinya yang mampu mewakili Switzerland adalah Berdorf, kota lain yang kami lewati dalam perjalanan menuju Echternach. Bukit-bukit bebatuan, hutan yang menyelimuti bukit, dan gemericik air mengalir di sungai kecil. Bukan. Bukan di pusat kota Berdorf, melainkan di antara Berdorf dan Echternach. Karena bus tidak berhenti di situ, terpaksa kami berjalan kaki ke sana :-)
Berdorf, Little Switzerland. Switzerland asli seperti apa yah?
Celah sempit di antara dua batu raksasa di Perekop, Berdorf.
Hari berikutnya, sebelum pulang ke Belanda, kami sempatkan mengunjungi Vianden. Kota kecil di pinggir sungai L’Our. Sebuah kastil bertengger di atas bukit. Setengah hari kami cukupkan di sana.
Kastil di atas kota Vianden dilihat dengan menumpang chairlift yang membawa kami ke atas bukit.
Kami sudah harus meninggalkan kota Luxembourg sekitar jam dua siang, jika tak ingin terlalu malam sampai di Enschede. Jalur pulang: Luxembourg – Namur – Liege-Guillemins – Maastricht – Utrecht (kali ini kami lewat Utrecht, karena sudah malas berganti-ganti kereta) – Amersfoort (ternyata kami tetap harus ganti kereta) – Enschede. Alhasil, hampir tengah malam, kami tiba di rumah. Alhamdulillah!
August 8, 2009 at 9:17 am
i am so glad when i see the garden of tulip in belanda. i want to school at the college of belanda . wait me okey …..? pray me to until at there