Dua tarif listrik

Pengalaman yang bisa kupetik dari mengontrak rumah sendiri adalah merasakan sendiri bagaimana cara orang Belanda menghidupi rumah mereka. Pengalaman semacam itu tidak bisa kuperoleh jika aku tinggal di studentenhuis (asrama pelajar).

Aku pernah tinggal di studentenhuis Macandra. Cukup bayar sewa tetap tiap bulan, aku sudah dapat kamar, air, listrik, pemanas ruangan (heater), gas untuk memasak, dan saluran TV. Mau pemanas ruangan menyala 24 jam sehari ketika musim dingin, misalnya, aku tak perlu pusing apakah tagihan sewa bulanan bakal naik. Karena hal itu tak akan terjadi :-)

Lain halnya ketika kini aku kontrak rumah sendiri. Aku harus mengelola sendiri pembayaran macam-macam tagihan bulanan: sewa rumah, listrik, gas, air, internet, TV, serta asuransi rumah. Lalu masih ada tagihan dari Gemeente (pemerintah kota) untuk urusan sampah dan air limbah yang harus aku bayar per tahun.

Kali ini aku cerita tentang listrik.
Kebetulan meteran listrik di rumahku mempunyai dua pencatat penggunaan listrik.
Satu untuk mencatat penggunaan pada waktu beban tinggi, yakni di hari kerja antara pukul 06.00-23.00, sedangkan yang satu lagi mencatat penggunaan pada waktu beban rendah, yakni di hari kerja pukul 23.00-06.00 dan sepenuh hari di akhir pekan. Tarif keduanya pun berbeda. Tarif listrik di waktu beban rendah lebih murah, yaitu sekitar 60% tarif listrik di waktu beban tinggi.

Dengan perbedaan tarif semacam itu, yang disertai pencatatan penggunaannya, aku harus pandai membagi beban pemakaian listrik jika aku tak ingin tagihan listrik melonjak tinggi. Pemakaian peralatan listrik beban besar yang tak mendesak, misal: mesin cuci, setrika, atau penghisap debu, sebisa mungkin kulakukan di saat tarif rendah. Dan akhir pekan pun menjadi hari bersih-bersih dan rapi-rapi :-)

Powered by ScribeFire.

HOW TO: menambal ban sepeda

Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like…

(Queen: Bicycle Race)

Di Belanda, sepeda merupakan ragam angkutan yang lazim digunakan. Tak pandang anggota parlemen, profesor, dokter, atau pelajar, jika tujuan tak begitu jauh dan hari tak hujan, bersepeda jadi pilihan. Ketrampilan dasar yang berkenaan dengan keberlangsungan hidup sepeda pun menjadi penting. Salah satunya: menambal ban :-)

Untunglah, sewaktu aku masih SD, aku pernah diajari Bapak menambal ban sepeda. Kini ketika ban sepedaku bocor, aku bisa menambalnya sendiri. Bahkan, aku telah mengajari setidaknya dua kawanku, Fadli dan Nandra, bagaimana cara nambal ban sepeda.

Sudah beberapa hari ini ban belakang sepedaku kempes :-( Aku yakin ban itu bocor, karena kempes habis, tanpa udara tersisa. Mumpung hari libur, aku sempatkan diri menambal ban.

Ban sepeda terdiri dari ban dalam dan ban luar. Yang kutambal adalah ban dalam. Ban luar biasanya tidak ditambal, tetapi diganti. Mungkin karena sudah aus dimakan jalan atau sobek tergores benda tajam.

Begini algoritma menambal ban:

  1. Siapkan peralatan, yakni sendok ban, lem, penambal ban, amplas, ember berisi air, kain lap, dan pompa. Tusuk gigi dan meja besar mungkin juga perlu (lho?)
    Di Belanda, kita bisa beli kit tambal ban yang, antara lain, berisi tiga sendok ban (berupa logam bengkok dengan ujung yang panjang seperti sendok dan ujung yang pendek berkait), lem, penambal ban, dan amplas. Untuk yang berukuran kecil, kit ini ada yang seharga 3,5 euro.
  2. Dengan menggunakan sendok ban, keluarkan satu sisi ban luar dari peleg (Belanda: velg, Inggris: rim).
    Selipkan ujung panjang salah satu sendok ban di antara ban luar dan peleg, kemudian cungkil ban keluar. Kaitkan ujung pendek sendok pada satu ruji roda sepeda untuk menahannya.
    Lakukan hal yang sama dengan sendok yang kedua di sebelah sendok yang pertama. Lalu lakukan juga dengan sendok yang ketiga di sebelah sendok yang kedua. Sebagian ban luar kini mulai berada di luar peleg. Lepaskan sendok kedua (yang berada di tengah). Gunakan sendok itu untuk mencungkil sebelah sendok yang ketiga.
    Ulangi langkah ini, sedikit demi sedikit, hingga satu sisi ban luar secara keseluruhan keluar dari peleg.
  3. Keluarkan ban dalam dari ban luar. Jangan lupa, bebaskan dop dari peleg. Dop adalah tempat pasang pentil (Belanda: ventiel).
  4. Setelah ban dalam berada di luar, pompa ban itu secukupnya.
  5. Cari tahu dimana titik bocor ban. Lakukan dengan cara mencelupkan ban ke dalam ember berisi air. Jika tampak gelembung-gelembung udara keluar dari ban, amati dari titik mana udara keluar. Di situlah titik bocor ban. Tandai titik tersebut; bisa dengan cara menancapkan tusuk gigi di titik bocor :-)
    Cek apakah ada titik bocor lain.
  6. Kempeskan ban, lalu keringkan daerah titik bocor dengan kain lap.
  7. Amplas daerah titik bocor supaya permukaan kasar sehingga lem nanti dapat erat melekat.
  8. Olesi lem dan tunggu sebentar hingga agak kering.
  9. Tempelkan penambal ban. Tekan erat, jika perlu tindih dengan benda berat, misal dengan kaki meja :-) Tunggu hingga penambal menempel dengan sempurna.
  10. Uji apakah tambalan sudah benar (langkah 4 dan 5).
  11. Ulangi langkah 6, 7, 8, 9, dan 10 jika ternyata tambalan masih bocor.
  12. Periksa bagian dalam ban luar: apakah ada benda tajam (paku, duri, dsb) yang menyebabkan ban dalam bocor? Jika ada, buang.
  13. Masukkan ban dalam ke dalam ban luar. Pasang dop pada peleg.
  14. Masukkan kembali ban luar ke dalam peleg. Lakukan dengan tangan dan kemudian diakhiri dengan menggunakan sendok ban untuk mencungkil ban luar masuk ke dalam peleg.
  15. Pompa ban hingga keras. Proses tambal ban telah selesai.

Semoga bermanfaat :-)

Powered by ScribeFire.