Tak ada Amin di masjid Turki

Amin? Amin siapa?
Bukan, di sini “Amin” bukanlah nama orang. Tetapi “Amin” yang biasa diserukan oleh para makmum begitu imam mengakhiri bacaan surat Al Fatihah saat shalat berjama’ah. Jama’ah di masjid Turki tidak mengeraskan dan memanjangkan “Amin”, cukup lirih dan pendek saja, atau malah tak disuarakan.

Aku masih ingat pengalamanku pertama kali shalat berjama’ah di suatu masjid Turki. Sesuai kebiasaan shalat berjama’ah di Indonesia, menjelang imam mengakhiri bacaan surat Al Fatihah, aku menarik nafas agar bisa berseru “Amin” keras dan panjang. Tepat imam mengakhiri bacaannya, udara telah memenuhi dadaku, siap untuk menyuarakan “Amin”.

Ujung huruf “A” telah lepas dari ujung lidahku, ketika kusadari jama’ah yang lain tak berseru. Dengan berat hati, kutelan “Amin”-ku :-)

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Powered by ScribeFire.

Posted in Celoteh. 1 Comment »

Tiga masjid

Ada tiga masjid di Enschede yang kerap dan kadang kukunjungi.

Yang pertama adalah masjid UT (University of Twente). Alhamdulillah, UT mau menyediakan satu ruang sebagai masjid kampus di gedung Vrijhof. Sekitar lima menit bersepeda aku sudah sampai di masjid itu. Kami, para pelajar muslim UT, tak perlu kesulitan mencari tempat shalat dhuhur dan ashar di hari dan waktu kerja.

Sejak beberapa bulan lalu, UT menyediakan tempat wudhu yang memadai. Sebelumnya kami harus berwudhu di ruang petugas jasa kebersihan (cleaning service) mencuci peralatannya. UT melarang kami berwudhu di wastafel toilet. “Bikin becek”, alasannya. Memang benar, jika berwudhu di wastafel, lantai sekitar wastafel pasti terpeciki air. Di negeri non-muslim ini, mau tak mau kami menjadi wakil citra seorang muslim. Jika kami memberi citra buruk, maka mudah saja orang-orang di sekitar kami memberi cap buruk kepada muslim keseluruhan. Karena itu, kami harus bisa menunjukkan citra baik seorang muslim: muslim yang bisa mentaati aturan dan mencintai kebersihan dan kerapian. Alhamdulillah, kami bisa melakukannya. Setelah kami mendapatkan ruang khusus wudhu, kami pun tetap menjaga kebersihan dan kerapiannya. Di awal tahun ajaran, ketika para pelajar muslim baru bergabung shalat Jumat, khatib selalu mengingatkan perihal ini.

Masjid UT juga menyelenggarakan shalat Jumat, yang biasanya diikuti oleh 40-an orang. Karena jamaahnya berasal dari berbagai negara, khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris. Dulu, khutbah dan imam shalat dilakukan oleh pelajar UT sendiri, antara lain Hadi (dari Indonesia) dan Ziad (Jordan). Setelah keduanya lulus, sempat dilanjutkan selama beberapa waktu oleh Muhammad (Syiria). Kini, takmir masjid UT mendatangkan khatib/imam dari masjid Maroko (baca masjid kedua di bawah ini).

Yang kedua adalah masjid Maroko (Allah’s huis voor moslims). Masjid ini biasanya menjadi acuan orang-orang Indonesia di Enschede dan sekitarnya dalam hal tanggal-tanggal penting, misal awal puasa Ramadhan, Iedul Fitri, dan Iedul Adha. Dan tentu saja, tempat kami bershalat ied. Sebagai masjid Maroko, khutbah diberikan dalam bahasa Arab.

Yang ketiga adalah masjid Turki (Islamitische Stichting Selimiye Moskee). Masjid ini dekat rumah, hanya berjarak satu taman kecil dari gedung apartemen rumahku. Di masjid ini, aku ikut shalat Jumat jika aku sedang tak di kampus di hari Jumat (karena bertepatan hari libur atau ada alasan lain). Khutbahnya, tentu saja, dalam bahasa Turki :-)

Powered by ScribeFire.