Hari minggu. Cuaca cerah, matahari bersinar tak terhalang awan.
Bosan ngendon di rumah seharian, sekitar jam tiga siang aku dan istriku bersepeda menuju perbatasan Belanda-Jerman. Enschede, yang merupakan kota besar (untuk ukuran Belanda) paling timur Belanda, hanya berjarak sekitar enam kilometer dari perbatasan.
Suhu yang tak jauh beranjak dari nol derajat tak menghalangi kami. Kami bersepeda dengan santai.
Glanerbrug adalah kota kecil di perbatasan yang bersandingkan dengan kota Gronau di Jerman. Tigaratus meter dari perbatasan, terpampang satu papan bergambar logo Uni Eropa memberitahukan bahwa sebentar lagi kami memasuki wilayah Jerman. Begitu pula ketika jarak tinggal 150 meter. Tepat di perbatasan, hanya papan “Glanerbrug coret” yang menandai bahwa kami sudah meninggalkan wilayah Belanda.
Suatu papan besar tegak di tepi jalan beberapa meter setelah memasuki wilayah Jerman. Papan itu berisikan informasi berkendara yang berlaku di Jerman, misal: kecepatan maksimal di jalan raya adalah 100 km per jam. Ku tengok balik ke arah Belanda, ternyata ada juga papan semacam. Di situ tertulis kecepatan maksimal di jalan raya adalah 80 km per jam.
Tak ada gapura menjulang di perbatasan.
Batas geografis Belanda-Jerman adalah suatu sungai kecil, yang tak lebih besar daripada Selokan Mataram di Jogja. Jembatan yang melintang di atas sungai itulah yang menjadi batas dua negara.
Aku teringat gapura-gapura di perbatasan antar kabupaten atau propinsi di Indonesia. Kadang megah berucap salam: “Selamat datang. Anda memasuki Kabupaten blah..blah..blah.“
Powered by ScribeFire.