… lalu Berlin

Setelah menunggu tiga pekan, akhirnya aku mendapat kabar tentang makalah yang kukirim ke I-ESA 2008. Alhamdulillah, makalahku diterima. Setelah Brazil, lalu Berlin. Di bulan yang sama, Maret 2008 :-)

Menurut informasi di situs konferensi itu, pemberitahuan kepada penulis seharusnya disampaikan tanggal 31 Oktober 2007. Aku tak mendapat pemberitahuan apa pun hari itu. Dua hari kemudian, tak jua aku mendapat kabar. Kuputuskan untuk menanyakan status makalahku melalui email kepada panitia konferensi. Ketua panitia penyelenggara membalas. Katanya, kami sedang menunggu hasil dari reviewer ketiga. Tunggu hasilnya beberapa hari lagi.

Aku tunggu beberapa hari. Hingga satu pekan setelah aku terima balasan itu, belum juga ada kabar dari panitia.

Aku tanyakan lagi status makalahku ke panitia. Kali ini tak ada balasan. Walah… gimana nih? Konferensi tingkat internasional kok begini :-(

Kuceritakan keadaan ini kepada Dick, supervisorku, yang juga menjadi penulis di makalah itu. Dick bilang bahwa penyelenggaraan I-ESA memang pernah menuai kritik karena kurang profesional. Apakah perlu aku tanyakan lagi status makalahku, Dick? Dia menyarankan agar aku bicara dulu ke Marten, supervisorku lain yang lebih senior. Siapa tahu Marten punya kenalan panitia yang bisa memberitahu nasib makalahmu.

Aku cerita ke Marten. Ia telusuri daftar panitia. Hmm… pantas saja pemberitahuan pemakalah molor. Cacah anggota panitia program terlalu sedikit untuk suatu konferensi tingkat internasional, katanya. Satu nama dikenali Marten. Seorang anggota panitia pengarah. Sebagai panitia pengarah, ia tak bisa diharapkan dapat memberi informasi tentang nasib makalahku.

OK. Kita tunggu hingga akhir pekan ini. Nanti aku yang tanyakan ke panitia, kata Marten.

Beberapa hari menunggu, tak ada kabar dari panitia. Aku ingatkan Marten agar ia segera saja menanyakan status makalahku. Jika makalahku tak diterima di I-ESA 2008, makalah akan aku kirimkan ke konferensi lain, tentunya setelah diperbaiki. Tenggat pengiriman makalah di konferensi itu akhir bulan ini. Tinggal kurang dari dua pekan lagi.

Hari ini, 21 November, pukul 3:23pm, kuperoleh kabar bahwa makalahku diterima. Asyik, jalan-jalan lagi ke Berlin… :-)

Powered by ScribeFire.

Abraham Ledeboerpark: sebelum gundul


Dari Abraham Ledeboerpark tembus ke arah kampus.

Awal musim dingin, sebelum pepohonan gundul ditinggalkan dedaunannya berguguran, memberi pemandangan yang kusuka. Daun-daun coklat memucat bersiap lepas dari tangkainya. Sementara di tanah, daun yang terserak belum sempat membusuk.

Aku sempatkan mengambil beberapa gambar Abraham Ledeboerpark, taman rindang penuh pepohonan di tepi jalan ke arah kampus. Dari dalam taman, ada jalan tembus menuju kampus. Sembari berangkat pagi ke kampus, aku siapkan kamera.

Langit mendung. Rimbun pepohonan menaungi Abraham Ledeboerpark. Cahaya sedikit, dan aku tak bawa tripod :-(

Untuk menyiasati keterbatasan cahaya, aku tata kamera dengan bukaan lensa f/4.5-5.6 dan kecepatan 1/10 detik. Tanpa tripod, dan juga tak kutemukan dudukan yang stabil untuk kameraku, foto-foto yang kuambil tampak sedikit kabur.

Dua foto di antaranya kutampilkan di sini. Sebelum kuunggah, foto kuperkecil ukurannya. Selain menghemat jatah ruang penyimpan dan mempercepat waktu unggah, kekaburan foto jadi lebih susah diamati :-)


Melongok padang rumput pinggir Abraham Ledeboerpark.

Powered by ScribeFire.

Y dibaca i-griek

Setiap Rabu, aku berdiskusi dengan Dick dan Stan di Telematica Instituut (TI), suatu lembaga riset yang fokus pada bidang telematika dan terapannya. Sebagaimana lazim di suatu lembaga riset, aku sebagai tamu tak bisa selonongan saja menjumpai Dick atau Stan. Setiap kali datang, aku harus lapor ke resepsionis dulu untuk mengutarakan maksud kedatanganku.

Goede morgen, sapaku berselamat pagi.
Goede morgen
, balas ibu resepsionis.
Ik heb een afspraak met Dick en Stan
. Aku punya janji dengan Dick dan Stan.
Ibu resepsionis tersenyum. Rupanya beliau telah hafal jadwalku setiap Rabu.
En jouw naam is…?
Beliau memancing namaku. Jemarinya bersiap mengetikkan namaku ke dalam komputernya.
Dirgahayu
. Seperti biasa, cukup nama belakang yang diperlukan. Tak perlu nama depan sebagai pembeda. Berapa orang sih yang bernama belakang “Dirgahayu” di Enschede atau bahkan seluruh Belanda?
Kulihat beliau kesulitan mengetikkan namaku karena bukan nama Belanda.
De, i, er, gkhe, a, ha, a, i-griek, uu. Kubantu beliau mengeja namaku.

Catatan:
bukannya aku sudah fasih berbahasa Belanda, tetapi percakapan itu hasil hafalan setiap hari Rabu :-)

Bahasa Indonesia mengadopsi cara pelafalan abjad ala bahasa Belanda. Ketika belajar melafalkan abjad saat ambil kursus bahasa Belanda, aku merasa mudah melafalkan abjad dalam Bahasa Belanda:

a, be, ce, de, e, ef, gkhe (bunyikan seperti orang mau -maaf- membuang dahak di tenggorokan), ha, i, ye (bukan je), ka, el, em, en, o, pe, qi, er, es, te, uu (mulut harus mancung), ve, we, ex, i-griek, zet.

Huruf Y dibaca i-griek, yang berarti i-yunani. Dalam bahasa Belanda, Yunani sebagai kata sifat disebut Griek. Negara Yunani disebut Griekenland. I-griek adalah Iota (baca: yota) yang bisa mewakili huruf Y dalam abjad Latin.

Sebagian generasi tua yang sempat mengenyam pendidikan ala Belanda masih melafalkan abjad sebagaimana bahasa Belanda. Termasuk juga Ibu. Setelah bertahun-tahun, semenjak tahun 1972, ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) diberlakukan, termasuk cara pelafalan abjad, Ibu tetap saja melafalkan huruf Y sebagai i-griek.

Dulu aku sering tertawa mendengar Ibu melafalkan huruf Y. Terdengar lucu. Kini, aku yang harus melafalkan huruf Y sebagai i-griek.

Powered by ScribeFire.

Pagi basah, sore pun basah

Pekan lalu, hujan turun tiap hari, baik pagi maupun sore. Kadang berhenti sebentar, lalu turun hujan lagi. Alhasil, pagi tiba di kampus dan sore sampai di rumah selalu berbasah-basah :-(

Begitu musim panas berlalu, tiap kali aku mau keluar rumah, prakiraan cuaca selalu aku pantau. Hujan adalah hal yang tak bersahabat bagi pengendara sepeda. Untung ada situs web yang menyediakan informasi prakiraan hujan, Buienradar.nl. Berdasar data dari badan meterologi Belanda (KNMI), situs itu menampilkan pergerakan awan di atas Belanda. Jadi, aku bisa tahu kira-kira jam berapa hujan akan turun atau berhenti.

Gambar berikut aku ambil hari Jumat pekan lalu sebelum pulang.

buienradar.png

Dengan awan hujan seperti itu (sayang pergerakannya tak bisa ditampakkan), kecil peluang aku bisa sampai rumah dalam keadaan kering. Meski keluar dari kampus saat tak hujan, hampir pasti di jalan aku kehujanan.

Powered by ScribeFire.

Kisah seiris roti

Tulisan ini hasil obrolan* makan siang (yang, seperti biasanya, tak berujung :-)

Seseorang menjalani hidup bisa dipandang dari dua sudut. Meski berbeda, keduanya mengibaratkan hidup seperti orang makan seiris roti.

Orang pertama mengibaratkan bahwa hidupnya adalah suatu roti yang utuh. Pada saat ia dilahirkan, ia mendapat jatah satu roti utuh tadi. Setiap hari, ia mengambil seiris dari roti itu. Ketika roti tadi habis, maka habislah pula usia orang tersebut. Maka, ketika suatu hari berakhir, ia berkata: “Usiaku berkurang satu hari”. Ia menyesal kehilangan satu hari.

Orang kedua tak pernah merasa memiliki roti yang utuh tadi. Pada saat ia dilahirkan, tak ada jatah satu roti utuh untuknya. Namun setiap hari, ia mendapat seiris roti. Bila pada suatu hari, ia tak mendapatkan seiris roti, berarti selesailah hidup orang tersebut. Maka, ketika suatu hari berakhir, ia berkata: “Usiaku bertambah satu hari.” Ia bersyukur diberi tambahan satu hari.

Bukan kesimpulan:

Kita tak tahu seberapa besar roti kehidupan kita, tetapi seiris roti bisa menjadi sesal atau menjadi syukur.

*Terimakasih buat Luiz, Rodrigo, Laura, Eduardo, dan Jorge.

Powered by ScribeFire.

Timur-barat dan utara-selatan

Kita kenal empat arah mata angin: timur, barat, utara, dan selatan. Ternyata ada hal yang membedakan antara timur-barat dan utara-selatan; tentu saja, selain arahnya.

Misalkan, aku berada di suatu tempat yang dilintasi garis khatulistiwa. Apabila aku berjalan (atau, lebih enak kalau naik pesawat :-) terus ke arah barat, maka aku akan kembali ke tempat yang sama. Demikian juga, dari tempat yang sama, apabila aku berjalan terus ke arah timur, maka aku akan kembali ke tempat yang itu lagi. Jadi cukup berjalan terus ke arah barat atau terus ke arah timur, setelah sekali aku mengelilingi bumi, maka aku kembali ke tempat yang sama.

Kita tak bisa melakukan hal yang sama dalam mengelilingi bumi ke arah utara atau selatan. Apabila aku berjalan terus ke utara, sesampai di kutub utara aku harus melanjutkan perjalanan ke selatan (tanpa membalikkan badan). Sesampai di kutub selatan, aku harus berganti arah lagi ke utara (tanpa membalikkan badan) untuk bisa kembali ke tempat semula. Demikian juga pada arah sebaliknya. Aku berjalan ke selatan, kemudian ke utara setelah melewati kutub selatan, dan terakhir ke selatan lagi setelah melewati kutub utara.

Sama-sama mengelilingi bumi, ke arah barat atau timur, kita tak perlu berganti arah; tetapi ke arah utara atau selatan, kita harus ganti arah dua kali :-)

Powered by ScribeFire.

Tugas membimbing tugas akhir

Sebelum jeda makan siang Jumat lalu, Marten masuk ke ruang kerjaku. Dia bertanya adakah aku punya ide tugas akhir MSc. Di awal pekan, ia sudah mengirim email tentang hal ini kepada semua pelajar PhD bimbingannya. Tapi aku tak jua membalasnya. Bukan aku saja sih yang tak membalas emailnya; karena setelah dari ruang kerjaku, Marten ke ruang kerja Ricardo menanyakan perihal yang sama :-)

Email Marten ternyata bukan sekedar pertanyaan; lebih tepat apabila disebut perintah atau tugas. Marten bilang kepadaku agar aku mengusulkan setidaknya satu ide tugas akhir. Tak bisa mengelak lagi aku.

Setelah kupikir-pikir, kuambil sisi baik membimbing tugas akhir MSc. Aku comot satu tugas dalam rencana penelitianku, lalu aku paparkan sebagai suatu tugas akhir MSc. Tujuan dan lingkupnya aku perjelas. Siapa tahu, jika ada yang mau mengerjakannya, hal ini akan meringankan beban kerja penelitianku.

Menjadikan sebagian rencana penelitian sebagai tugas akhir MSc bukannya tanpa resiko. Jika yang berminat adalah pelajar yang kurang giat, bisa jadi ia malah menambah beban kerjaku. Aku bukannya mengada-ada. Pelajar bimbingan Tom sudah dua tahun tak kunjung selesai mengerjakan tugas akhirnya. Ada pelajar lain yang terpaksa dihentikan di tengah jalan oleh supervisornya karena ia tak mampu menulis laporan ilmiah. Kasus-kasus seperti itu tentunya bisa mengganggu jadwal penelitian si pemberi tugas akhir.

Membimbing tugas akhir MSc. Hmmm… bakalan jadi pengalaman baru, nih. Sewaktu aktif mengajar di Jogja, aku pernah membimbing tugas akhir. Tetapi itu untuk tugas akhir S1. Semoga pengalaman membimbing tugas akhir MSc bisa bermanfaat ketika nanti aku balik mengajar di Jogja. Eh, Informatika UII jadi mau buka program magister (S2), nggak ya?

Powered by ScribeFire.